BUKU KENANGAN - KARYA THERESIA RATRI
Siur angin laut melawan rambut-rambutku hingga beterbangan. Aku memejamkan mata, merasakan sapuan angin di bawah pohon yang membuat tenang kali ini. Aku juga merasa, dibalik kelopak mataku dia melihat dari jauh. Melambaikan tangan dan terseyum, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sepertinya itu hanyalah ilusiku.
Aku bangkit dari duduk, melangkah lebih dekat dengan lautan, lalu bermain-main dengan air sendiri. Semenjak dia tak ada aku hanya bisa mengungkapkan keluh kesahku pada laut, dengan ini aku merasa dia mendengarku walau tak menjawab. Jika ada seseorang di sisiku itu pun hanya sekadar teman kerja yang bahkan tidak akrab sama sekali.
Tak sadar hari mulai malam, aku ditegur oleh penjaga pantai ini karena sebentar lagi pantai akan ditutup. Aku sedih, merasa tak rela, tapi bagaimana pun setiap pantai memiliki jam operasinya, aku hanya bisa mematuhi itu. Ketika akan melangkah, tak sengaja aku melihat seorang bule di depanku membuang sampah makanan di atas pantai pasir. Padahal di sana ada penjaga yang menegurku tadi. Aku melihat penjaga itu berbincang seakan tidak masalah dengan kelakuan pengunjung itu. Sontak itu membuatku jengkel dan berteriak sehingga membuat kedua orang berbeda Negara itu menoleh.
“Apa kau tahu yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak membuang sampah sembarangan di pantai! Itu bisa mencemari sekitarnya,” ujarku dengan bahasa inggris yang lumayan fasih.
Bule yang ditegur itu menatap pria disampingnya, tak lama pria yang berseragam-penjaga yang menegurku tadi-mengucapkan sesuatu yang semakin membuat aku tak suka.
“Ekhm.. Sebaiknya Anda tidak perlu ikut campur karena itu bukan urusan Anda. Lagi pula nanti akan ada petugas kebersihan yang akan membersihkannya,” ujar penjaga itu tanpa merasa bersalah.
“Bukan urusanku? Hei, tentu saja ini urusanku! Apa jadinya jika tidak ada orang yang peduli sama sekali ketika ada orang lain melakukan hal yang sebenarnya salah? Lalu, ada atau tidaknya petugas kebersihan seharusnya kita sadar diri menjaga kebersihan itu wajib! Bukan hanya untuk petugas kebersihan!”
Setelah meluapkan kekesalanku, kulihat penjaga itu terdiam, sementara orang bule itu tak mengerti dengan apa yang kubicarakan.
“Sir, I hope you understand that we have to maintain cleanliness wherever we are.” Aku membungkuk tanda hormat lalu melihat reaksi bule itu sekilas yang mengangguk memahami maksudku. Aku paling tidak menyukai ketika ada orang yang selalu saja membuang sampah tidak melihat tempatnya. Apalagi menyangkut laut.
Mengingat jika ‘dia’ yang sangat menyukai laut membuatku tambah protektif ketika ada sampah di sekitar laut. Saat ke laut aku pasti selalu mengingatnya, dia yang tenang, dia yang suka berenang, dan dia yang suka birunya air laut.
“Lana!” Suara teriakan itu membuatku tersadar dan menoleh ke sumber suara. Ah, ternyata itu Lionel, kakakku yang kemarin baru saja pulang dari luar negeri. Aku melangkah menuju tempat kakakku yang berdiri di samping penjual bakso. Ternyata aku tak sadar langkahku tadi membawa ke tempat kuliner.
“Eh, Lana. Sejak kapan kamu di sini?” kulihat kak Nia-kakak iparku-yang sedang mendorong Stroller anak berusia satu tahun.
“Baru saja kok,” jawabku tersenyum kecil. Aku merasakan pundakku ditepuk kecil, pelakunya adalah sang kakak yang ternyata menawariku makan. Tentu saja aku tidak menolak kesempatan gratis ini.
“Mas, tambah satu lagi baksonya yang nggak terlalu pedes, bawang gorengnya banyakin ya. Sama minumnya es teh.” Aku tak menyangka sang kakak masih ingat dengan apa yang menjadi kesukaanku. Padahal dia sudah beberapa tahun tinggal di luar negeri.
Sekarang kami mencari tempat duduk, khusus untuk keponakanku tentu saja menggunakan Strolller. Sambil menunggu makanan siap kami berbincang-bincang terlebih dahulu.
“Oh ya, Na. Gimana soal pencarian temanmu yang namanya siapa itu?” Mendengar pertanyaan itu aku terdiam dan mencoba tenang. Lalu, aku mendengar sang kakak yang menegur istrinya karena menanyakan hal yang sensitif untukku, kak Nia pun meminta maaf, tapi aku menganggap hal itu bukan masalah.
“Namanya Adeline, dia sahabatku. Bukan sekadar teman biasa. Persoalan gimana pencariannya sekarang masih belum ada perkembangan.” Kami bersahabat tapi belum pernah bertemu. Dia blasteran Jerman-Indo yang tinggal di Jerman, sedangkan aku asli Indonesia. Saat itu kami berkomunikasi masih dengan menggunakan smartphone. Hingga pada akhirnya kami berjanji untuk bertemu. Ia pergi ke Indonesia untuk menemuiku. Tapi naas, kecelakaan terjadi. Pesawat yang dinaiki Adeline terjun dari atas ke permukaan laut. Entah di laut bagian mana.
“Makanannya sudah jadi,” ucapan kakak membuatku melihat ke orang yang sedang mengantarkan pesanan kami. Aromanya membuat aku tak tahan untuk makan, hingga suara dari dalam perut terdengar mereka. Sontak mereka tertawa, sementara aku menahan malu.
“Sepertinya, kamu nggak tahan untuk makan ya,” goda sang kakak.
“Diam!” Sang kakak terkekeh berhasil menggodaku. Setelahnya kami pun berdoa sebelum makan, mengucap syukur atas berkat makanan yang kami terima.
Sambil makan aku mengamati sekitar, ada yang sedang bersama keluarga kecilnya, ada juga yang bersama sahabatnya. Teringat lagi tentang Adeline, waktu itu saat kami video call dia berkata kalau ingin kulineran bersama. Tapi nyatanya itu hanya angan-angan. Tidak sempat tercapai karena tragedi kecelakaan pesawat. Aku berharap… dia cepat ditemukan karena sudah menjelang tiga hari tidak ditemukan jejaknya dan aku tahu ini mustahil semoga saja dia kembali hidup-hidup.
Ketika kami akan menghabiskan makan, tiba-tiba suara ribut di belakangku terdengar. Suara ambulan pun terdengar aku lihat petugas itu berlari mendekati pantai sepertinya. Aku yang penasaran mencoba melihat.
“Hei ada apa ini? Apa ada yang meninggal??” Kulihat di sana ada yang mencegat seorang petugas.
“Ya, tadi ada pengunjung yang mengatakan seseorang tegeletak di atas pantai padahal sebelumnya tidak ada. Aku pikir itu salah satu korban kecelakaan pesawat yang mungkin bisa selamat.” Seketika jantungku berdegup kencang, apa itu Adeline? Aku menggeleng. Tidak mungkin.
“Ya, Tuhan! Dia masih bisa bernafas walau tersendat-sendat!” seru pria gondrong itu.
“Dimana tandunya?! Cepat bawakan!” Seketika suasana menjadi heboh. Banyak orang-orang yang melihat itu mendekat dan menggenggam handphone seakan siap untuk disebarkan ke media, sehingga aku yang kecil tidak bisa melihat dengan jelas. Aku takut kalau itu benar Adeline. Ketika orang di atas tandu itu ingin dibawa aku panik dan segera mengejarnya.
“Lana! Mau kemana kamu?!” seruan kakakku tak ku gubris. Langkahku pasti untuk mengejar, firasatku mengatakan itu Adeline.
Ketika akan dimasukan ke ambulan aku segera mengambil motorku dan mengegas kencang. Umpatan dan ujaran kekesalan pejalan juga pengendara aku abaikan. Tak lama mobil itu sampai ke rumah sakit terdekat. Korban di taruh di atas tandu kemudian di dorong menuju ruang ICU. Aku segera berlari menyusul dan hampir dicegat. Tentu saja aku kalah. Tandu itu sudah masuk ke ruang ICU.
Aku memejamkan mata dan menangis tanpa suara. Berdoa berharap semua baik-baik saja. Seharusnya kala itu aku mencegah Adeline untuk pergi.
“Hubungi keluarga pasien atas nama Adeline Redrigo, putrinya yang dalam kondisi kritis akan ditangani!” Mendengar itu aku runtuh dan terduduk di atas lantai rumah sakit. Bahuku di tepuk, saat aku melihat pelakunya segera kupeluk.
“Kakak.. Aku tidak ingin dia pergi..” lirihku. Aku meraung-raung, sang kakak pun hanya memelukku dan mengelus kepalaku.
“Atas keluarga korban?” Aku melepas pelukan dan melihat sekitar dengan mata sembab. Di sana terdapat keluarga Adeline yang dari Indonesia. Mereka berbincang, aku tak mendengar sama sekali.
“Maaf tapi pasien sudah tidak bisa kami selamatkan.” Kalimat itu membuatku tersenyum kecut dan tidak berharap lagi. Aku melihat ibunda dari sahabatku yang mempelihatkan sorot mata menyedihkan tapi berusaha tegar. Ia melihatku dan sepertinya tahu aku adalah salah seorang yang dikenal anaknya. Lalu ia berjalan mendekat dan memberikanku sebuah buku.
“Dari Adeline untukmu.” Mataku mulai berkaca-kaca saat membuka buku itu. Di sana tertulis kisah kami dengan tulisan Adeline. Tidak banyak foto karena kami tidak pernah bertemu. Hanya foto pribadi aku dan Adeline yang disatukan. Aku menangis kejer, sang kakak pun sigap memelukku. Mataku mengabur dan kesadaranku mulai menipis. Aku jatuh pingsan dipelukan kakak. Segala yang bisa diingat hanya melalui buku kenangan yang diberikan Adeline karena tidak ada momen saat kita bersama.
Siur angin laut melawan rambut-rambutku hingga beterbangan. Aku memejamkan mata, merasakan sapuan angin di bawah pohon yang membuat tenang kali ini. Aku juga merasa, dibalik kelopak mataku dia melihat dari jauh. Melambaikan tangan dan terseyum, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Sepertinya itu hanyalah ilusiku.
Aku bangkit dari duduk, melangkah lebih dekat dengan lautan, lalu bermain-main dengan air sendiri. Semenjak dia tak ada aku hanya bisa mengungkapkan keluh kesahku pada laut, dengan ini aku merasa dia mendengarku walau tak menjawab. Jika ada seseorang di sisiku itu pun hanya sekadar teman kerja yang bahkan tidak akrab sama sekali.
Tak sadar hari mulai malam, aku ditegur oleh penjaga pantai ini karena sebentar lagi pantai akan ditutup. Aku sedih, merasa tak rela, tapi bagaimana pun setiap pantai memiliki jam operasinya, aku hanya bisa mematuhi itu. Ketika akan melangkah, tak sengaja aku melihat seorang bule di depanku membuang sampah makanan di atas pantai pasir. Padahal di sana ada penjaga yang menegurku tadi. Aku melihat penjaga itu berbincang seakan tidak masalah dengan kelakuan pengunjung itu. Sontak itu membuatku jengkel dan berteriak sehingga membuat kedua orang berbeda Negara itu menoleh.
“Apa kau tahu yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak membuang sampah sembarangan di pantai! Itu bisa mencemari sekitarnya,” ujarku dengan bahasa inggris yang lumayan fasih.
Bule yang ditegur itu menatap pria disampingnya, tak lama pria yang berseragam-penjaga yang menegurku tadi-mengucapkan sesuatu yang semakin membuat aku tak suka.
“Ekhm.. Sebaiknya Anda tidak perlu ikut campur karena itu bukan urusan Anda. Lagi pula nanti akan ada petugas kebersihan yang akan membersihkannya,” ujar penjaga itu tanpa merasa bersalah.
“Bukan urusanku? Hei, tentu saja ini urusanku! Apa jadinya jika tidak ada orang yang peduli sama sekali ketika ada orang lain melakukan hal yang sebenarnya salah? Lalu, ada atau tidaknya petugas kebersihan seharusnya kita sadar diri menjaga kebersihan itu wajib! Bukan hanya untuk petugas kebersihan!”
Setelah meluapkan kekesalanku, kulihat penjaga itu terdiam, sementara orang bule itu tak mengerti dengan apa yang kubicarakan.
“Sir, I hope you understand that we have to maintain cleanliness wherever we are.” Aku membungkuk tanda hormat lalu melihat reaksi bule itu sekilas yang mengangguk memahami maksudku. Aku paling tidak menyukai ketika ada orang yang selalu saja membuang sampah tidak melihat tempatnya. Apalagi menyangkut laut.
Mengingat jika ‘dia’ yang sangat menyukai laut membuatku tambah protektif ketika ada sampah di sekitar laut. Saat ke laut aku pasti selalu mengingatnya, dia yang tenang, dia yang suka berenang, dan dia yang suka birunya air laut.
“Lana!” Suara teriakan itu membuatku tersadar dan menoleh ke sumber suara. Ah, ternyata itu Lionel, kakakku yang kemarin baru saja pulang dari luar negeri. Aku melangkah menuju tempat kakakku yang berdiri di samping penjual bakso. Ternyata aku tak sadar langkahku tadi membawa ke tempat kuliner.
“Eh, Lana. Sejak kapan kamu di sini?” kulihat kak Nia-kakak iparku-yang sedang mendorong Stroller anak berusia satu tahun.
“Baru saja kok,” jawabku tersenyum kecil. Aku merasakan pundakku ditepuk kecil, pelakunya adalah sang kakak yang ternyata menawariku makan. Tentu saja aku tidak menolak kesempatan gratis ini.
“Mas, tambah satu lagi baksonya yang nggak terlalu pedes, bawang gorengnya banyakin ya. Sama minumnya es teh.” Aku tak menyangka sang kakak masih ingat dengan apa yang menjadi kesukaanku. Padahal dia sudah beberapa tahun tinggal di luar negeri.
Sekarang kami mencari tempat duduk, khusus untuk keponakanku tentu saja menggunakan Strolller. Sambil menunggu makanan siap kami berbincang-bincang terlebih dahulu.
“Oh ya, Na. Gimana soal pencarian temanmu yang namanya siapa itu?” Mendengar pertanyaan itu aku terdiam dan mencoba tenang. Lalu, aku mendengar sang kakak yang menegur istrinya karena menanyakan hal yang sensitif untukku, kak Nia pun meminta maaf, tapi aku menganggap hal itu bukan masalah.
“Namanya Adeline, dia sahabatku. Bukan sekadar teman biasa. Persoalan gimana pencariannya sekarang masih belum ada perkembangan.” Kami bersahabat tapi belum pernah bertemu. Dia blasteran Jerman-Indo yang tinggal di Jerman, sedangkan aku asli Indonesia. Saat itu kami berkomunikasi masih dengan menggunakan smartphone. Hingga pada akhirnya kami berjanji untuk bertemu. Ia pergi ke Indonesia untuk menemuiku. Tapi naas, kecelakaan terjadi. Pesawat yang dinaiki Adeline terjun dari atas ke permukaan laut. Entah di laut bagian mana.
“Makanannya sudah jadi,” ucapan kakak membuatku melihat ke orang yang sedang mengantarkan pesanan kami. Aromanya membuat aku tak tahan untuk makan, hingga suara dari dalam perut terdengar mereka. Sontak mereka tertawa, sementara aku menahan malu.
“Sepertinya, kamu nggak tahan untuk makan ya,” goda sang kakak.
“Diam!” Sang kakak terkekeh berhasil menggodaku. Setelahnya kami pun berdoa sebelum makan, mengucap syukur atas berkat makanan yang kami terima.
Sambil makan aku mengamati sekitar, ada yang sedang bersama keluarga kecilnya, ada juga yang bersama sahabatnya. Teringat lagi tentang Adeline, waktu itu saat kami video call dia berkata kalau ingin kulineran bersama. Tapi nyatanya itu hanya angan-angan. Tidak sempat tercapai karena tragedi kecelakaan pesawat. Aku berharap… dia cepat ditemukan karena sudah menjelang tiga hari tidak ditemukan jejaknya dan aku tahu ini mustahil semoga saja dia kembali hidup-hidup.
Ketika kami akan menghabiskan makan, tiba-tiba suara ribut di belakangku terdengar. Suara ambulan pun terdengar aku lihat petugas itu berlari mendekati pantai sepertinya. Aku yang penasaran mencoba melihat.
“Hei ada apa ini? Apa ada yang meninggal??” Kulihat di sana ada yang mencegat seorang petugas.
“Ya, tadi ada pengunjung yang mengatakan seseorang tegeletak di atas pantai padahal sebelumnya tidak ada. Aku pikir itu salah satu korban kecelakaan pesawat yang mungkin bisa selamat.” Seketika jantungku berdegup kencang, apa itu Adeline? Aku menggeleng. Tidak mungkin.
“Ya, Tuhan! Dia masih bisa bernafas walau tersendat-sendat!” seru pria gondrong itu.
“Dimana tandunya?! Cepat bawakan!” Seketika suasana menjadi heboh. Banyak orang-orang yang melihat itu mendekat dan menggenggam handphone seakan siap untuk disebarkan ke media, sehingga aku yang kecil tidak bisa melihat dengan jelas. Aku takut kalau itu benar Adeline. Ketika orang di atas tandu itu ingin dibawa aku panik dan segera mengejarnya.
“Lana! Mau kemana kamu?!” seruan kakakku tak ku gubris. Langkahku pasti untuk mengejar, firasatku mengatakan itu Adeline.
Ketika akan dimasukan ke ambulan aku segera mengambil motorku dan mengegas kencang. Umpatan dan ujaran kekesalan pejalan juga pengendara aku abaikan. Tak lama mobil itu sampai ke rumah sakit terdekat. Korban di taruh di atas tandu kemudian di dorong menuju ruang ICU. Aku segera berlari menyusul dan hampir dicegat. Tentu saja aku kalah. Tandu itu sudah masuk ke ruang ICU.
Aku memejamkan mata dan menangis tanpa suara. Berdoa berharap semua baik-baik saja. Seharusnya kala itu aku mencegah Adeline untuk pergi.
“Hubungi keluarga pasien atas nama Adeline Redrigo, putrinya yang dalam kondisi kritis akan ditangani!” Mendengar itu aku runtuh dan terduduk di atas lantai rumah sakit. Bahuku di tepuk, saat aku melihat pelakunya segera kupeluk.
“Kakak.. Aku tidak ingin dia pergi..” lirihku. Aku meraung-raung, sang kakak pun hanya memelukku dan mengelus kepalaku.
“Atas keluarga korban?” Aku melepas pelukan dan melihat sekitar dengan mata sembab. Di sana terdapat keluarga Adeline yang dari Indonesia. Mereka berbincang, aku tak mendengar sama sekali.
“Maaf tapi pasien sudah tidak bisa kami selamatkan.” Kalimat itu membuatku tersenyum kecut dan tidak berharap lagi. Aku melihat ibunda dari sahabatku yang mempelihatkan sorot mata menyedihkan tapi berusaha tegar. Ia melihatku dan sepertinya tahu aku adalah salah seorang yang dikenal anaknya. Lalu ia berjalan mendekat dan memberikanku sebuah buku.
“Dari Adeline untukmu.” Mataku mulai berkaca-kaca saat membuka buku itu. Di sana tertulis kisah kami dengan tulisan Adeline. Tidak banyak foto karena kami tidak pernah bertemu. Hanya foto pribadi aku dan Adeline yang disatukan. Aku menangis kejer, sang kakak pun sigap memelukku. Mataku mengabur dan kesadaranku mulai menipis. Aku jatuh pingsan dipelukan kakak. Segala yang bisa diingat hanya melalui buku kenangan yang diberikan Adeline karena tidak ada momen saat kita bersama.
.png)

Komentar