Gunung Sampah - Karya Theresia Ratri
Gunung Sampah
Suara barang-barang berjatuhan membuat langkah kakiku terhenti dan segera mencari asal suara itu. Aku mengernyitkan alis ketika melihat seseorang yang Aku kenal dengan baju seragam sekolah yang sama denganku sedang mengeruk tempat sampah. Melangkah lebih dekat ingin mengetahui apa yang sedang dilakukannya. Ketika hampir sampai, tepukan di bahu membuatku menoleh dan terkejut seketika.
“Rei! Kamu ngapain sih?”
Aku berdecak kesal tak ingin menjawab pertanyaan itu, lalu kembali melihat seseorang yang tadi aku perhatikan dan ternyata sudah tidak ada ditempat. Pasti dia sudah pergi. Semua ini gara-gara Lou!
“Reina! Denger nggak sih? Kamu ngapain di sini?” Aku menatap sinis pada orang yang menggangguku tadi lalu menjawabnya dengan asal, “mancing ikan!” Setelah itu aku melengos tak mempedulikan Lou dan melanjutkan perjalanan pulang yang sempat tertunda.
Di tengah perjalanan aku pun kembali berpikir. Aku tahu dia memang anak kurang mampu jika dilihat-lihat tapi apakah harus mengeruk tempat sampah juga? Aku jadi merasa kasihan dengannya. Orang itu memang tidak memiliki teman satu pun dan itu terjadi karena setiap orang yang ingin berdekatan dengannya langsung menjauh akibat bau tidak sedap menguar dari tubuhnya. Apa mungkin karena ia mengorek tempat sampah tadi ya?
“Rei? Tadi kok aku lihat Nimala ngeruk sampah ngapain ya?” Aku menoleh. Oh, ternyata anak ini mengikutiku dari tadi.
“Mungkin ambil sampah buat dijual. Kan lumayan dapat uang walau nggak seberapa,” balasku seadanya.
“Tapi aku penasaran orang tuanya kerja apa ya? Kok nggak pernah kelihatan?” Tanya Lou penasaran. Aku pun sama penasarannya. Mengurus urusan orang lain memang memusingkan tapi inilah kita, selalu ingin menuntaskan rasa penasaran dengan segala resiko.
Keesokan harinya saat pulang sekolah aku dan Lou ingin nongkrong di cafe dekat sekolah. Tak disangka kami berdua bertemu lagi dengan Nimala. Bedanya kali ini Ia terlihat rapi dan sedang berbicara dengan karyawan cafe lalu keluar dari cafe setelah mendapat kantong kresek besar entah berisi apa, karena rasa penasaran yang sudah tidak bisa dibendung kami memilih untuk mengikutinya hingga sampai di rumahnya yang terlihat tidak terawat.
Tahu apa yang membuatku dan Lou terkejut? Di depan rumahnya terdapat mobil mewah yang hanya bisa dibeli orang kalangan atas. Aku memandang Lou yang juga memandangku. Batin kami bertanya-tanya, sebenarnya siapa Felicia ini?
Kami mendekat dengan mengendap-endap, ingin tahu lebih jauh, hingga saat berada di depan mobil mewah itu kami tak berkutik. Aku dan Lou memang tidak kaya tapi ekonomi orang tua kami cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Samar-samar kami mendengar suara asing yang membuat kami cepat bersembunyi dibalik pepohonan yang lebat dan tak jauh dari mereka. Terlihat pria bule dengan baju formal berjabatan dengan wanita paruh baya yang sepertinya orang tua dari Nimala. Badan kami semakin maju ingin mendengar apa yang dibicarakan.
Krak
Aku meringis dan merutuki Lou yang tak sengaja menginjak ranting di depannya. Padahal sudah kuperingatkan untuk berhati-hati.
“Astaga! Apa kalian temannya Nimala?” Tanya wanita paruh baya itu yang tau karena seragam sekolah yang kami pakai. Kami hanya diam tak berkutik. Wanita itu pun mengajak masuk dan memanggil Nimala. Aku tetap diam hingga Lou menyenggolku dengan sikunya. Aku menoleh dan mendapati ekspresinya yang seakan mengatakan bagaimana ini? Sejenak aku menghela dan menghembuskan nafas pelan setelahnya mengendikan bahu. Pasrah apa yang akan terjadi ke depannya. Nimala datang dan wanita paruh baya itu ijin keluar untuk menyelesaikan urusannya.
Suasana menjadi canggung karena Nimala hanya menatap kami berdua tanpa mengajak berbicara. Diam-diam aku merutuki Lou lagi, jika saja dia diam pasti tidak akan ketahuan.
“Ekhm.. Sebenarnya itu yang di depan tadi siapa, La?” Aku menatap Lou yang berbicara karena tidak ingin suasana menjadi canggung, tapi kenapa harus to the point?! Mereka berdua saling mengenal saja tidak. Hening.
Pertanyaan Lou bahkan diabaikan. Dia menyenggolku dan seakan menyuruh membantunya. Enak saja! Dia kan yang membuat posisi kami menjadi seperti ini! Akhirnya karena tak tahan dengan suasana seperti ini terlalu lama aku mulai bersuara.
“Maaf, mungkin ini membuatmu tidak nyaman. Aku dan Lou tak sengaja melihatmu disekitar sini dan kami tak menyangka Ibumu meminta kami masuk ke dalam rumahmu,” ujarku sedikit berdusta.
“Apa yang ingin kalian ketahui?” Pertanyaan itu membuat kami tersentak, sepertinya dia sudah tahu.
“Tidak ada, Mala. Kami terlalu penasaran dan membuatmu tidak nyaman. Kami pergi saja, terima kasih sebelumnya.” Setelah itu aku berdiri. Aku sadar bahwa terlalu penasaran hingga mengikuti orang lain itu tidak baik, karena terlihat seperti penguntit. Lebih baik kami pergi saja.
“Duduk saja, aku akan menjawab semua pertanyaan kalian,” ujarnya mutlak. Aku dan Lou saling memandang, jika Nimala bilang begitu artinya kami bisa bertanya sepuasnya.
“Baiklah, maaf sebelumnya. Sebenarnya ada apa denganmu, La?” Tanya Lou dengan hati-hati tidak seperti sebelumnya.
“Tidak ada apa-apa.” Baik sepertinya pertanyaan Lou kurang kompleks. Aku pun mengambil alih dengan menceritakan semuanya dari awal dan menanyakan apa yang ingin dilakukan Nimala hingga harus mengeruk tempat sampah. Nimala yang mendengar itu terdiam. Aku menjadi takut jika ia tersinggung. Setelahnya aku melihatnya tersenyum dan berdiri.
“Aku paham kalian pasti penasaran. Ayo ikut aku!” ajaknya dan kami mengiyakan saja, hingga kami diperlihatkan pintu yang terlihat sedikit rapuh. Ketika Nimala membuka pintu itu, aku dan Lou sama-sama tercengang tak percaya. Apa-apaan ini? Banyak sampah-sampah tertimbun di ruangan ini. Seperti gunung sampah saja! Segera aku menoleh ke arah Nimala.
“Apa? Memang ini yang aku lakukan,” ujarnya tak merasa bersalah. Aku dan Lou menatap satu sama lain, kami kira ada sesuatu nyatanya tidak ada apa-apa. Suara tawa Nimala membuatku terpecah dengan lamunanku.
“Ini bukan apa-apa.” Nimala mulai berjalan ke dalam dan membuka lagi pintu yang ada dalam ruangan itu, kami pun hanya mengikutinya. Ketika lampu akan dinyalakan kami benar-benar tak berkutik. Mengagumkan.
“Apa ini kamu yang membuatnya?” Tanya Lou menyentuh lampion unik berbentuk nanas yang terbuat dari sendok tidak terpakai itu. Aku pun mulai duduk di kursi yang terbuat juga dari botol bekas.
“Iya, aku mengambil barang-barang bekas ini dari tempat sampah dan kubuat menjadi barang berguna.” Tak kusangka Nimala sekreatif ini hingga menghasilkan barang-barang unik. Felicia menceritakan jika dari buatannya ini dapat untung banyak dari klien luar negeri dan orang itu adalah orang yang kulihat di depan rumahnya dengan mobil mewah itu. Motifnya membuat barang ini tentu untuk mengurangi limbah sampah plastik dan sebagainya agar tidak mencemari lingkungan dan menghindari bahaya lainnya.
Aku berdecak kagum ternyata dia memiliki kepekaan tinggi pada lingkungannya, dan ini juga merupakan suatu tamparan keras untukku yang sering menghasilkan sampah-sampah plastik ini. Padahal jika aku dapat mengolahnya lagi dengan baik pasti dapat menghasilkan sampah yang berharga dan pundi-pundi uang, yang membuatku semakin kagum pun karena dia tidak malu dengan keadaannya. Aku dan Lou semakin mengerti bahwa kita tidak bisa mengetahui seseorang dari penampilannya saja.

.png)
Komentar