ANTARA EGO DAN GENGSI - KARYA THERESIA RATRI
Antara Ego dan Gengsi
Karya: Theresia Ratri
“Nak, sudah disiapin semuanya?” suara lembut yang mengalun indah terdengar ditelingaku. Aku yang sehabis menutup koperku menolehkan kepala ke arah datangnya suara.
“Sudah, Ma” jawabku singkat. Orang yang kupanggil Mama pun hanya tersenyum tipis dan mendekat ke arahku sembari berkata lirih, “nak... maaf ya kalau ini buat kamu keberatan. Semenjak papa meninggal, Mama kesulitan buat cari pekerjaan karena Mama cuma lulusan SD. Walau pun ada harta warisan Mama nggak yakin kita bisa bertahan lama sayang.., apalagi biaya hidup di kota itu mahal. Tolong ngertiin Mama ya, Nak?”
Aku terdiam sesaat... lalu menghembuskan nafas berat dan beranjak keluar tanpa mempedulikan ucapannya. Entah kemana yang penting keluar dan mengistirahatkan pikiranku yang lelah.
Sudah lama Papa meninggalkan kami berdua. Meninggalkan dengan harta warisan yang tak seberapa itu. Ini yang paling kubenci, dengan warisan yang sedikit aku pasti akan diledek temanku habis-habisan. Aku tak suka direndahkan. Aku lebih suka mereka memujiku.
TIN TIN!
Suara klakson mobil menginterupsiku. Aku menoleh ke arah datangnya suara yang tak jauh dariku. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang pengendara mobil yang keluar dari mobilnya dan memarahi kakek-kakek yang ingin menyebrang saat lampu lalu lintas berubah hijau. Aku tak sadar ternyata langkah kakiku membawa ke tempat ramai seperti ini.
“Heh! Kalau mau nyebrang itu yang bener!” sentak seorang pria pengendara mobil itu. Nampak sekali kalau pria itu memarahi seorang kakek tua tadi. Kulihat di sana ada orang lain yang mendekat ke arah dua orang tersebut dan mengatakan, “Pak, ini orang tua lho. Nggak perlu marah-marah.” Pria itu marah dan membalas, “Anda tidak perlu ikut campur urusan saya!”
Begitulah yang terdengar ditelingaku. Tak jarang ada orang yang seperti itu, seakan-akan ini menjadi hal yang wajar. Aku pun melanjutkan langkahku sambil melihat sekitar. Tak lama ada seseorang yang memanggilku.
“Alvaro!” Aku menoleh pada orang itu. Kulihat ia berlari tergesa-gesa dengan membawa sebuah tas tenteng yang entah apa isinya.
“Al! Gawat Al!” serunya ketika sampai didekatku. Aku hanya mengangkat sebelah alisku yang bisa dimengerti kalau aku sedang bertanya. Ia berhenti sejenak lalu mengangkat tangannya menandai kalau dia butuh menetralkan nafasnya terlebih dahulu.
“Al, gue bisa nginep di rumah lo nggak hari ini? Plis, bantuin yaa,” pintanya memohon.
“Nggak bisa.” Raut wajahnya yang tadi terlihat lesu menjadi lebih lesu, “gue hari ini sampe seterusnya nggak tinggal di sini lagi. Gue pindah,” lanjutku santai.
“Yah, kok gitu sih..,” ujarnya dengan kecewa, tetapi dengan cepat ia melanjutkan lagi, “emangnya lo mau pindah kemana?”
“Bukan urusan lo, Ryan,” jawabku singkat. Aku tak mau mereka tahu bisa-bisa diledek habis-habisan nanti. Ryan yang mendengar jawabanku mencebikkan bibirnya, aku yang melihatnya pun mengernyitkan dahi merasa jijik dengan tingkahnya.
“Mabuk lagi semalam?” tebakku. Ryan pun hanya menyengir yang dapat kuartikan kalau malam tadi ia mabuk hingga diusir dari rumah karena ketahuan. Hampir setiap malam mabuk, diusir dari rumah dan berujung menginap dirumahku. Biasa terjadi dengan teman-temanku.
Drt... Drt..
Suara getaran dari saku celanaku menginterupsi pembicaraanku dan Ryan. Terpampanglah nama penelepon di layar smartphoneku yang bertuliskan ‘Mama’. Kuangkat telepon itu dan terdengarlah suara Mama yang menyuruhku segera pulang karena Pamanku sudah sampai dirumah untuk menjemput kami berdua. Setelah itu aku langsung memutuskan panggilan begitu saja tanpa sepatah kata pun.
“Sorry, Yan. Gue harus pulang sekarang Paman gue udah dateng ke rumah buat jemput. Gue pergi,” ujarku cepat. Aku meninggalkan Ryan yang melongo tak percaya karena meninggalkannya sendirian.
Sesampai di rumah aku lihat pagar rumah ingin dikunci oleh Mama. Kulihat juga ada sosok pria paruh baya yang sedang memasukan barang-barang ke dalam bagasi mobil.
“Paman,” panggilku pelan. Orang yang kupanggil paman itu pun menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.
“Halo ponakanku!” serunya sambil memelukku singkat. Aku pun membalas pelukannya.
“Gimana? Udah siap?” tanyanya padaku. Aku tak yakin sebenarnya, apalagi di desa tak bisa kubayangkan bagaimana di sana nanti. Internet tidak ada, hidup seadanya, jadi apa nanti kalau tinggal di sana. Aku menghembuskan nafas berat dan mengatakan, “mau nggak siap ujung-ujungnya juga tetep harus ke sana kan? Nggak ada gunanya kalau aku bilang nggak siap.” Paman yang mendengar itu pun tersenyum tipis dan mengusap rambutku pelan. Mama pun yang mendengar perkataanku memilih untuk diam.
“Sudah semua kan?” tanya pamanku yang dijawab dengan anggukan dari aku dan Mama, ia pun melanjutkan “Kalau gitu cusss kita berangkat.”
Selama diperjalanan aku hanya menatap bangunan-bangunan kokoh dan megah yang nantinya tidak aku lihat lagi karena mulai saat ini aku akan tinggal di desa. Tak lama kelopak mataku menutup dan aku pun tertidur.
***
“Nak? Bangun, Nak.” Sayup-sayup kudengar suara lembut, Aku menggeliat pelan dan membuka mataku pelan. Melihat sekitar yang ditumbuhi berbagai tumbuhan. Kulihat ke samping terdapat senyum lembut dari Mama.
Sepertinya sudah sampai, pikirku. Aku pun turun dari mobil dan sekali lagi melihat sekitarku., kulihat Mama mulai memasuki sebuah rumah yang kupikir itu akan menjadi tempat tinggalku nanti. Ingat sesuatu, aku merogoh saku celana dan memegang benda pipih itu. Inginku mengabari temanku tapi nyatanya tidak ada sinyal di sini.
Aku mengeluh, “ck, kok nggak ada sinyal sih?!” Kakku pun mulai melangkah ke tempat yang lebih tinggi untuk mencari sinyal.
Tanpa sadar kakiku menginjak ke daerah kali yang bersih dan jernih. Aku tak percaya melihatnya, seakan-akan hal ini adalah mustahil. Selama bertahun-tahun tinggal di kota aku tidak pernah menemukan kali yang sejernih dan sebersih ini.
“Hai!” Suara itu membuatku hampir terjungkal ke depan menyebur kali. Aku melihat sesosok anak laki-laki yang kelihatannya seumuran denganku.
“Kenalin aku Abi,” ujarnya mengenalkan diri. Aku mengernyitkan dahi.
Sokab banget nih anak.
Perkenalan dari anak itu pun aku abaikan. Tetapi tak lama kemudian, aku mulai merasa risih karena ia terus melontarkan pertanyaaan-pertanyaan tidak berguna. Aku yang merasa jengah pun menjauh darinya dan fokus pada tujuanku utamaku yaitu mencari sinyal. Handphone kuangkat tinggi-tinggi sambil mencari tempat yang tidak banyak pepohonan.
“Wihh, benda apa itu?” tanya anak laki-laki itu. Aku tak percaya dia akan mengikutiku sejauh ini. Dan apa? Ada orang yang tak tahu benda seperti ini? Hidup dijaman apa anak ini? Oh iya, aku lupa kalau dia anak desa. Mana ada handphone di sini?
Seketika aku merasa bangga kalau aku memiliki smartphone yang banyak orang lain di sini tidak punya.
“Aku belum kenal kamu loh.. Namamu siapa?” tanya anak itu lagi. Mendengar itu aku mendengus keras dan berlari sejauh-jauhnya menuju rumah yang tadi Mama masuki.
Aku pun berhenti berlari dan mengatur nafas sebentar karena pasokan nafas yang menipis. Tak lama terdengar suara paman yang memanggilku dan menyuruhku untuk membersihkan diri lalu makan. Aku diam. Aku tak tahu dimana kamar mandi dan kamarku nanti. Bagaimana aku mau membersihkan diri?
“Alvaro?” Suara itu menginterupsiku. Kulihat di sana ada wanita paruh baya yang tersenyum ke arahku. Mungkin ia adalah bibiku karena terlihat seumuran dengan mama.
“Ini Bibi, Nak. Kamu lupa?” Firasatku tak pernah salah. Aku pun menyalaminya setelah memastikan ini bibiku.
“Kamu belum tahu kamarmu ya?” tanya bibi. Aku pun hanya menganggukan kepala, bibi pun menuntunku dan memberi tahu seluruh tempat-tempat di rumah ini yang nantinya akan menjadi tempat tinggalku. Dan tibalah di depan pintu kamarku yang terlihat usang? Apa tempat ini tidak pernah direnovasi?
Aku pun masuk setelah memastikan bibi pergi. Kututup pintu kayu yang mulai terpaut usia dan melihat kamarku yang tidak seperti saat di kota. Dinding yang mulai mengelupas, lemari yang sederhana dan kasur yang kupikir tidak begitu nyaman saat ditiduri. Helaan nafasku terasa dan sepertinya aku harus mulai terbiasa saat ini. Walaupun sepertinya sulit karena aku tidak mudah berdaptasi dengan cepat.
Sudah dua bulan lamanya aku tinggal di sini. Masalah nyaman atau tidak aku sudah hampir terbiasa dan masalah sinyal sudah teratasi karena aku menemukan tempat yang cocok yaitu di bukit. Bahkan kasur yang sulit untuk kutiduri pertama kali sudah tidak kupermasalahkan lagi karena setiap hari selalu ada kegiatan yang membuat lelah setelah itu aku bisa tertidur dengan nyenyak. Baik karena disuruh membantu Bibi dan Mama yang sedang berkebun atau membantu Paman di toko.
“ALVARO!” teriakan super kencang itu membuatku kesal. Aku terbiasa hal yang berada di dalam rumah ini. Tapi tidak dengan orang yang meneriakiku saat ini. Selama dua bulan tinggal di sini tentu saja aku sudah mengerti seluk beluk desa ini walau belum semua. Salah satunya aku memiliki tetangga yang super berisik. Orang itu adalah Abi, orang yang menggangguku saat ingin mencari sinyal dan tak disangka menjadi tetanggaku.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu terdengar dan Aku tau siapa pelakunya.
“Varo.. main yuk!” Nada cerianya masih saja terdengar padahal sudah sering kulontarkan kata-kata pedas dan kuabaikan. Dia terlalu berisik untuk aku yang suka ketenangan.
“Varo.. ayok main bola bareng temen-temen lain!” ajaknya masih dengan nada ceria. Aku yang jengah pun membuka pintunya dan berkata, “minggir! Lo aja sono yang main!” ketusku merasa jengkel. Abi membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi tak jadi karena aku langsung menjauh dari hadapannya.
“Tunggu Varo!” dengan cepat ia menyelaraskan langkahku. Di tengah jalan, ada anak-anak lain yang memanggilku dan Abi. Anak-anak itu adalah yang mengajak kami berdua main bola. Aku mengabaikannya tetapi Abi mengatakan, “Kami nggak jadi main! Lain kali aja ya!” ia berteriak karena jarak kami dan mereka cukup jauh. Padahal dia bisa ikut main bola walau aku tidak ikut. Tapi kenapa anak ini selalu mengikutiku sih?
Dengan ia mengikutiku ujung-ujungnya akan kuabaikan karena aku terlalu asik dengan handphone dan dia hanya berbicara panjang lebar yang pasti tak kutanggapi. Aku berdecak kesal ketika ia masih mengikutiku. Dengan cepat aku berbalik hingga membuat anak itu menghentikan langkahnya tiba-tiba.
“Bisa nggak sih lo nggak usah ganggu gue?!” sentakku yang membuatnya terdiam lalu menunduk. Kesabaranku menipis. Aku pun melanjutkan perkataanku, “Heh! Denger ya, gue nggak suka diganggu. Udah cukup suara lo mengganggu apalagi kehadiran lo bikin gue muak!” ujarku yang mungkin menusuk relung hatinya.
“Varo...” kudengar ia berucap lirih. Tapi Aku tak peduli.
“Pergi dan jangan ganggu gue lagi, gue nggak butuh lo.” Perkataanku yang terakhir membuat ia terlihat sedih. Rasa bersalah seketika masuk ke dalam relung hatiku, tapi kutepis jauh-jauh. Ini demi ketenanganku.
Sebelum aku membalikan badanku, aku melihat tangannya yang mengusap mata. Aku pergi dari sana dan menuju ke bukit untuk menghubungi temanku lagi. Sesampai di bukit aku duduk di sebuah batu besar lalu membuka handphoneku. Suara notifikasi pun terdengar ketika data seluler kunyalakan.
Kubuka group chat yang beranggotakan Aku dan teman-teman sekolahku. Asik dengan handphone membuatku lupa waktu hingga bateraiku tinggal lima persen. Aku melihat sekitar dan melihat matahari mulai terbenam. Dengan cepat aku mengakhiri permainan dan berpamitan pada temanku.
Aku mulai beranjak dari tempat duduk dan membersihkan celanaku yang kotor. Saat ingin berjalan langkah kakiku tiba-tiba terhenti karena melihat pepohonan lebat yang mulai gelap. Rasa takut menyeruak dan Aku langsung berlari menuju desa. Tak kusangka ranting-ranting yang menghalangiku membuatku terpeleset dan jatuh.
Bruk!
“Shhhss...” ringisku. Kulihat kakiku yang lecet dan beberapa luka mengeluarkan darah, kupegang kepalaku yang mengalirkan darah akibat terbentur batang pohon. Ini terasa sangat sakit. Pandangan yang kutajamkan melihat ke bawah, ternyata aku terjatuh di tanah yang curam.
Melihat waktu semakin gelap membuatku panik, aku pun beranjak pelan dan melanjutkan jalan yang sebentar lagi gelap dengan tubuh penuh luka. Peluh membanjiri tubuhku karena lelah berjalan, matahari sudah terbenam sepenuhnya yang berarti sudah malam. Lama-lama aku merasa kalau bukannya semakin dekat dengan pendesaan malah semakin jauh. Apa aku tersesat?
Hawa dingin tiba-tiba mulai terasa olehku. Tubuhku merinding dan seketika mengingat ucapan Abi yang mengatakan kalau daerah bukit ini angker saat malam hari. Ini pertama kalinya aku tersesat di sini. Selama dua bulan tidak pernah tersesat sama sekali saat bersama anak itu yang biasa mengintiliku. Tentu saja setiap hari mulai petang ia akan mengusikku dan memintaku pulang karena tidak berani pulang malam-malam.
Aku terduduk di bawah pepohonan yang tidak terlalu lebat dan terlihat bulan yang nampak di atas sana. Aku tiba-tiba mengingat sesuatu. Saat itu di siang hari aku terjatuh dari pohon karena mengambil buah mangga muda yang diminta oleh Mama. Sebenarnya aku tidak ingin tapi karena bujukan Mama yang mengatakan kalau Bibi sedang hamil dan mengidam ingin mangga muda membuatku mau tak mau harus mengambilnya.
Di sana hanya ada aku yang memanjat pohon, ketika ingin turun tiba-tiba saja aku terpeleset kakiku tergores ranting yang lancip. Aku hampir tidak bisa bangun saat itu karena jatuh dari ketinggian yang lumayan tinggi. Tapi untungnya ada Abi yang melihatku jatuh dan ia segera menolongku.
Kupikir ia tidak terlalu buruk sebenarnya. Walaupun sering kulontarkan kata-kata pedas dan kuabaikan dia tetap baik menolongku. Bukan hanya dia sebenarnya, tetapi orang-orang di sini memang ramah dan akrab tidak seperti di kota yang kebanyakan individualis. Seketika rasa bersalah juga sesal muncul dilubuk hatiku, tapi sepertinya tidak ada waktu untuk menyesali semuanya.
Kepalaku mulai pening karena belum makan siang dan sore ditambah handphoneku sudah mati total. Mataku memberat karena rasa ngantuk, apakah hidupku sampai sini saja? Kupikir terlalu banyak kesalahan yang aku buat. Mulai dari mengacuhkan Mama karena kami akan pindah ke desa dan mengabaikan teman yang tulus seperti Abi. Aku berharap masih bisa bertemu dan setidaknya bisa mengucapkan kata maaf dan terimakasih untuk orang-orang yang aku sakiti dengan perilaku dan perkataanku.
Ketika mataku ingin menutup sempurna, terbuka kembali saat samar-samar aku mendengar banyak orang yang memanggil namaku. Dan nampaklah wajah mereka yang pernah aku sakiti.
“Nak, kamu kenapa bisa gini?!”
“Astaga, Varo!”
Suara panik seseorang yang selama ini selalu merawatku dan jeritan dari orang yang selalu mengintiliku masih terdengar ditelingaku. Hanya saja mataku mulai mengabur dan bibirku terbuka ingin mengucapkan sesuatu.
“M-maaf... dan terimakasih.. Ma, Bi..” lirihku sembari tersenyum kecil. Mataku pun tertutup. Seketika aku kehilangan kesadaran saat seseorang mengangkat tubuhku.
.png)

Komentar